Jerat.id || Ponorogo – Perhelatan akbar pelantikan dan deklarasi pengurus organisasi sosial-spiritual Yakuza Maneges wilayah Ponorogo di Gedung Sasana Praja, Kompleks Pemkab Ponorogo, berlangsung khidmat dan meriah pada Selasa (3/11/2026) malam.
Ribuan orang yang berpakaian serba hitam memadati lokasi hingga meluber ke area sekitar, disambut atraksi belasan kelompok Reog asli Ponorogo serta konvoi pengawalan ketat Satlantas Polres Ponorogo.
Momen bersejarah ini dihadiri langsung oleh Pendiri Yakuza Maneges, Den Gus Thuba (Thuba Topo Broto Maneges), Ketua Umum Yakuza Maneges Pusat Hari Simplex, serta Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo, Hj. Lisdyarita, S.H., Forkompinda, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Ormas-ormas, LSM hingga sejumlah perguruan silat.
Dalam sambutannya, Plt Bupati Ponorogo yang akrab disapa Bunda Lis menyampaikan rasa bangga dan apresiasi setinggi-tingginya atas hadirnya gerakan pembinaan rohani Yakuza Maneges di Bumi Reog.
Ia mengaku sempat terkejut saat pertama kali mendengar nama organisasi tersebut karena mengira berkaitan dengan kelompok luar negeri.
“Jadi awalnya itu saya jujur kaget gus, Yakuza ki nopo gitu. Bayangan saya langsung (kelompok -red) Jepang gitu. Nggak taunya Gus Thuba pelopornya. Saya langsung tertarik begitu mendengar filosofinya. Maknanya sangat mendalam: (YAKUZA) yang awalnya kotor, ujungnya menjadi zuhud abadi,” tutur Lisdyarita di atas panggung.
Bunda Lis menjelaskan, kata maneges membawa pesan kejernihan rohani bahwa setiap manusia memiliki kesempatan mutlak untuk memperbaiki diri.
Ia berharap Yakuza Maneges menjadi rumah perubahan bagi masyarakat, khususnya merangkul mereka yang kerap dijuluki “santri jalur kiri” (mereka yang sempat jauh dari agama) agar mantap berhijrah. Gerakan ini meneladani dakwah almarhum KH Hamim Tohari Djazuli (Gus Miek), kakek dari Gus Thuba.
Dikatakannya, metamorfosis dakwah Yakuza Maneges menegaskan bahwa syiar agama tak terbatas di dalam masjid atau pesantren, melainkan hadir merangkul masyarakat jalanan dan ruang sosial yang luput tersentuh dengan pendekatan humanis tanpa menghakimi.
Pemkab Ponorogo menyambut baik kehadiran Yakuza Maneges dan berharap sinergi erat dengan para kiai serta pengurus dapat menjadikan Ponorogo semakin adem, ayem, tenteram, dan penuh keberkahan.
Sementara itu, penyampaian manifesto dan kode etik organisasi dibacakan oleh perwakilan Tim Eksekutif Yakuza Maneges Ponorogo, Iksan, mewakili pimpinan tertinggi Den Gus Thuba.
Iksan menguraikan bahwa nama Maneges merujuk pada istilah Jawa kuno tentang tekad memusatkan seluruh jiwa raga kepada Sang Pencipta.
“Organisasi ini adalah rumah bagi saudara-saudara kita yang selama ini diidentikkan sebagai ‘santri jalur kiri’. Prinsip kami, tidak ada manusia yang terlahir buruk, dan tidak ada jalan yang tertutup bagi mereka yang ingin kembali,” tegas Iksan.
Berada di bawah naungan Majelis Semaan Al-Qur’an dan Dzikrul Ghofilin Moloekatan Gus Miek, Yakuza Maneges memegang motto “Kesatria, Militan, Profesional, Intelektual, Diam, Senyap, Eksekusi, Tanggung Jawab” dengan slogan khas: GASS TANPA AMPUN!
Melengkapi sambutan Plt Bupati dan Tim Eksekutif, Ketua Umum Yakuza Maneges Pusat, Hari Simplex, menyampaikan pidato penegasan organisasi sosial spritual Yakuza Maneges untuk meluruskan persepsi keliru di ruang publik.
“Pertama, Yakuza Maneges murni organisasi sosial-spiritual, bukan kelompok preman ataupun wadah yang mencari keuntungan lewat intimidasi.”
Kedua, Ketua umum itu memastikan organisasinya tidak pernah dan tidak akan pernah membenarkan tindakan pemerasan terhadap perorangan, lembaga, maupun instansi pemerintah.
“Dan yang ketiga, Organisasi kami berdiri secara independen tanpa kontrak politik kotor, dengan orientasi murni pada kemanusiaan, keadilan sosial, dan Amar Ma’ruf Nahi Munkar.”
Menanggapi narasi miring di ruang publik, Ketum Hari Simplex berpesan tegas.
“Jangan membangun kehormatan diri dengan cara meruntuhkan kehormatan orang lain! Kebenaran tidak ditentukan oleh seberapa sering cerita bohong diulang-ulang, melainkan oleh fakta yang bisa dibuktikan.”
Kode Etik Organisasi dan Penutup
Sebagai estafet dari Deklarasi Pusat di Kediri, kader di Ponorogo diwajibkan mematuhi Kode Etik Organisasi secara ketat:
1. Menjaga nama baik Yakuza Maneges di mana pun berada.
2. Menjunjung tinggi loyalitas, solidaritas, dan totalitas membela kaum lemah.
3. Dilarang keras membawa nama organisasi untuk kepentingan pribadi, tindak kriminal, politik praktis, maupun kampanye.
4. Dilarang menggunakan atribut organisasi dalam kegiatan ormas lain atau aksi demonstrasi.
5. Dilarang melakukan tindakan melanggar hukum, asusila, termasuk KDRT, dengan sanksi tegas bagi pelanggarnya.
Prosesi pelantikan dan deklarasi ditutup secara khidmat dengan penyerahan cenderahati, lantunan gending, serta pertunjukan seni Reog Ponorogo yang menyemarakkan suasana.
(TimCyberYakuzaManeges)











