JERAT.ID // KEDIRI – Sebuah gerakan sosial-keagamaan baru, Yakuza Maneges, tengah menjadi sorotan publik. Diinisiasi oleh Den Gus Thuba Topo Broto Maneges, cucu dari ulama kharismatik Gus Miek, gerakan ini membawa misi unik: merangkul kelompok marginal dan mengubah stigma “kotor” menjadi jalan hidup yang zuhud dan abadi.
Secara filosofis, Yakuza Maneges dimaknai sebagai upaya gigih untuk membersihkan keburukan, mengarahkan masyarakat menuju kesederhanaan, serta memperteguh iman dan kebenaran. Konsep dakwah yang diusung dinilai segar karena mampu menjangkau kalangan yang selama ini merasa jauh dari pendekatan dakwah konvensional.
Dalam deklarasinya, organisasi ini menegaskan fokus utamanya pada pembinaan akhlak, pemberdayaan sosial, serta menjaga kondusivitas sosial. Pendekatan yang terbuka membuat gerakan ini diterima dengan cepat oleh generasi muda maupun kelompok yang sering disebut sebagai “santri jalur kiri”.
“Semua dirangkul tanpa melihat latar belakang,” tegas Den Gus Thuba dalam sambutannya.
Lebih lanjut, Den Gus Thuba menambahkan bahwa Yakuza Maneges hadir untuk menjawab tantangan zaman dengan konsep dakwah yang lebih fleksibel dan relevan dengan realitas sosial masyarakat saat ini.
Ke depannya, Yakuza Maneges berkomitmen aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan dan pembinaan komunitas, menyebarkan nilai-nilai kebaikan yang merangkul, bukan memukul.
Pewarta: Red cek











